Ari Kuncoro: Makroekonomi Kecepatan Pemulihan

 

Ari Kuncoro: Makroekonomi Kecepatan Pemulihan

Ari Kuncoro: Makroekonomi Kecepatan Pemulihan

 

Nino Eka Putra ~ Humas FEB UI

DEPOK – Selasa (7/7/2020), Profesor Ari Kuncoro, Rektor Universitas Indonesia, merilis tulisannya yang dimuat Kompas.idkanal Opini – Analisis Ekonomi, yang berjudul “Makroekonomi Kecepatan Pemulihan”. Berikut tulisannya.

“Makroekonomi Kecepatan Pemulihan”

Triwulan III-2020 merupakan titik awal kritis untuk memanfaatkan angin buritan. Implementasi merupakan penentu keberhasilan rancangan dan urutan kebijakan.

Beberapa lembaga Internasional, seperti Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi atau OECD, Dana Moneter Internasional atau IMF, dan Bank Dunia berlomba-lomba menyesuaikan ramalan pertumbuhan ekonomi dunia ke bawah. Dalam publikasi terbarunya, OECD juga mengeluarkan data yang mendasari prediksinya. Data itu dapat digunakan untuk berbagai kalkulasi sederhana.

Meminjam ide konvergensi pertumbuhan ala Barro dan Sala-i-Martin (1990), dapat diperkirakan secara kasar koefisien kecepatan pemulihan, yakni waktu yang dibutuhkan perekonomian untuk kembali ke pertumbuhan jangka panjang (steady state). Caranya, dengan membandingkan perkiraan kontraksi pada 2020 dengan rerata pertumbuhan ”jangka panjang” antara 2012-2019. Waktu yang dibutuhkan adalah kisaran jendela kesempatan (window of opportunity).

Trayektori pertumbuhan dapat saja berubah sehingga proses kembali ke keseimbangan menjadi lebih cepat atau lebih lambat. Misalnya, jika terjadi perubahan ekspektasi masyarakat, kebijakan baru, perkembangan teknologi seperti penemuan vaksin, obat, dan lain-lain.

Kecepatan pemulihan

Secara umum, dunia akan kehilangan output 7,85 persen pada 2020 dan hanya mampu menghasilkan pertumbuhan 2,75 persen pada 2021. Jika kemudian perekonomian global hanya mampu tumbuh seperti steady state antara 2012-2019 sebesar 3,28 persen setahun, maka diperlukan dua tahun lebih untuk mengembalikan pertumbuhan dunia ke keseimbangan jangka panjang.

Sementara itu, nilai produk domestik bruto (PDB) negara-negara OECD akan tergerus 9,29 persen pada tahun ini dan hanya mampu bangkit dengan pertumbuhan 2,24 persen pada tahun depan. Dengan metode yang sama, diperlukan kurang lebih 3,45 tahun bagi mereka kembali ke jalur pertumbuhan jangka panjangnya.

Negara-negara yang terdalam kontraksinya kebetulan bertetangga dekat, yaitu Perancis, Spanyol, dan Italia, masing-masing tumbuh negatif sekitar 14 persen. Bukan kebetulan kalau negara-negara Eropa Latin ini mengandalkan sektor jasa, terutama pariwisata, untuk sumber pertumbuhan yang sangat bergantung pada kehadiran fisik pelanggan. Negara-negara ini diperkirakan baru dapat mengejar output yang hilang pada 2020 minimal dalam empat tahun, bahkan mungkin lebih.

Hanya ada dua negara yang pada 2021 dapat mengompensasi pertumbuhan negatif tahun sebelumnya, yaitu China dan India. Walaupun tumbuh minus 6,8 persen pada triwulan I-2020, China diramalkan dapat menebus hal itu pada triwulan selanjutnya sehingga hanya minus 3,67 persen untuk keseluruhan 2020.

Adapun India, pertumbuhan 2021 akan melejit ke 8,07 persen sehingga menutup pertumbuhan negatif 7,28 persen pada 2020. Besaran koefisien kecepatan pemulihan kurang dari 1 yang berarti pada 2021 kedua negara ini diperkirakan sudah dapat kembali ke jalur pertumbuhan sebelum krisis. Indeks Purchasing Manager (PMI) India (47,2) dan China (51,2) menunjukkan mereka sudah mulai mendekati atau bahkan memasuki zona positif sejak Juni 2020.

Pengurutan kebijakan

Perhitungan data OECD menunjukkan, Indonesia, tanpa usaha luar biasa, dapat kembali ke jalur pertumbuhan 5 persen dalam waktu 1,23 tahun sejak 2020 yang berarti sekitar triwulan I-2022. Waktunya mungkin agak terlambat karena negara-negara lain di Asia, seperti China dan India, sudah bergegas mencoba merebut rantai pasok dunia yang sedang vakum. Triwulan III dan IV penting bagi Indonesia untuk ikut ”mencuri start”.

Untuk itu, dalam manajemen krisis tidak hanya rancangan kebijakan yang penting, tetapi juga urutan kebijakan untuk membimbing ekspektasi ke arah yang positif. Namun, tetap saja ada kekhawatiran Indonesia akan terjerembab ke dalam perangkap keseimbangan rendah (low-level equilibrium trap).

Untuk Indonesia, OECD memberi batas bawah pertumbuhan minus 3,9 persen, sedangkan Bank Dunia minus 3,5 persen jika pembatasan sosial berskala besar berlangsung empat bulan atau lebih. Sampai saat ini, beberapa parameter eksogen masih belum berada pada nilai yang tepat untuk pertumbuhan yang positif.

Indeks keyakinan konsumen (IKK) masih 77,8 atau jauh di bawah batas optimistis. PMI sektor manufaktur sudah membaik walaupun masih di  bawah 50 yang berarti di zona pesimistis. Indeks ini  meningkat signifikan dari 28,6 pada Mei ke 39,1 pada Juni sehingga dapat dianggap sebagai secercah cahaya di ujung terowongan. Untuk meningkatkan optimisme masyarakat dan dunia usaha diperlukan contoh-contoh di lapangan dari kebijakan yang menyeimbangkan kesehatan masyarakat dan memulihkan perekonomian, terutama di tingkat daerah.

Dengan kondisi kegiatan ekspor-impor dunia yang mati suri, nilai tukar dapat digunakan sebagai indikator habitat makroekonomi sudah kondusif. Sesuai persamaan matematika dinamis Dornbusch (1976), beberapa variabel makro dapat digolongkan menjadi barometer dini untuk mengecek suhu perekonomian. Sementara, hal lain, misalnya pertumbuhan ekonomi dan inflasi, baru terlihat belakangan.

Nilai tukar rupiah pada Maret 2020 sempat terdepresiasi 18 persen dari Rp 14.500 per dollar AS mendekati Rp 16.800 per dollar AS dalam sebulan akibat pandemi Covid-19. Penyebabnya, modal asing portepel keluar dari Indonesia untuk mencari safe heaven dalam dollar AS akibat kekhawatiran dampak negatif Covid-19 terhadap perekonomian Indonesia.

Pengurutan kebijakan mengatasi pandemi Indonesia menuju normal baru menjadi perhatian dunia Internasional dan berpengaruh pada variabel makro nilai tukar. Arus modal portepel kembali masuk sehingga rupiah mendekati nilainya pada kisaran Rp 14.000 per dollar AS sebelum pandemi. Memang, tidak ideal hanya mengandalkan arus modal masuk portepel. Namun, seperti dalam olahraga layar, angin buritan akan mempermudah pemulihan ekonomi. Angin segar juga datang dalam bentuk prospek relokasi beberapa pabrik dari Amerika Serikat ke beberapa kawasan industri di pantai utara Jawa Tengah, yang menunjukkan modal langsung masih tertarik masuk ke Indonesia.

Pengurutan kebijakan dimulai dari deklarasi Covid-19 sebagai pandemi; perlindungan sosial untuk kelompok miskin dan rentan; perlindungan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM); relaksasi dunia perbankan; relaksasi defisit fiskal; dan penerbitan peraturan pengawasan penyelamatan ekonomi nasional dinilai tepat. Perkembangan terakhir, Bank Indonesia akan menanggung sebagian besar dari bunga surat berharga pemerintah. Hal ini merupakan usaha untuk meringankan kendala antarwaktu anggaran pemerintah.

Triwulan III-2020 merupakan titik awal kritis untuk memanfaatkan angin buritan (head wind). Seperti semua perancangan dan pengurutan kebijakan, akhirnya implementasi yang menentukan keberhasilannya. Pemerintah sebagai integrator sistem dari sisi permintaan dan produksi perekonomian harus meningkatkan penyerapan anggaran dari beberapa kementerian yang masih terlalu rendah. Tujuannya, mengangkat trayektori pertumbuhan, langsung dan melalui efek berganda serta tidak langsung lewat perubahan ekspektasi masyarakat dan kredibilitas kebijakan (Drazen dan Masson [1994]). Perubahan ini ke arah pertumbuhan yang lebih positif dalam keseimbangan menyelamatkan nyawa dan meminimalkan resesi. (hjtp)

 

Sumber: https://www.kompas.id/baca/opini/2020/07/07/makroekonomi-kecepatan-pemul...

Kategori Target Audience: 
Kategori Fakultas: 
Kategori Konten: