Primary tabs

Diskusi Film Tatto: Gaya Hidup dan Stigma

 

Diskusi Film Tatto: Gaya Hidup dan Stigma

Mengubah pandangan seseorang tentang tato, itulah hal yang coba diusik dalam pemutaran film dokumenter dan pembahasannya yang diadakan Departemen Antropologi. Acara tersebut diadakan pada Rabu (12/4) di Auditorium Juwono Sudarsono.

Dua film yang diputar berjudul Bali Tatooland dan Bless This Mess. Acara ini menghadirkan Panca Dwiandhika (sutradara film), Rhino Ariefiansyah, dan Hestu Prahara (Dosen Antropologi), serta Arthur Josias Simon Runturambi (Dosen Kriminologi)

Fim Bali Tattoland menggambarkan tato sebagai gambar artistik sebagai bagian dari gaya hidup di pulau dewata. Berisi wawancara dengan pengrajin tato disana, film ini bercerita tentang tato di Bali yang merupakan ekspresi seni tubuh yang mengandung nilai keindahan yang digemari masyarakat lokal maupun turis asing.

Film Bless This Mess bercerita tentang tato yang selalu diidentikan dengan tindak kejahatan. Menyinggung peristiwa Petrus, film ini berisi wawancara mantan narapidana yang mengisi waktu luangnya di penjara dengan mentato temannya menggunakan alat-alat sederhana.

Menurut Panca, pembuat kedua film tersebut, ide awal pembuatan film ini adalah belum adanya riset yang memadai mengenai tato di Indonesia.

Selain itu, pembahasan mengnai tato juga ditilik dari sisi kriminoogi. “Dalam studi kriminologi, tato merupakan salah satu medium pelaku kejahatan untuk menunjukkan ketidaksetujuannya terhadap aturan yang berlaku di masyarakat,” kata Arthur Josias.

 

Acara juga dimeriahkan dengan pertunjukkan langsung bagaimana menatto seeorang menggunakan peralatan sederhana. Tatto yang digambarkan merupkahan khas Suku Dayak. Di atas panggung AJS, seorang penato dengan serius membuat gambaran di kepala seseorang sementara diskusi sedang berlangsung. 

Kategori Target Audience: 
Kategori Konten: