FKUI Ukir Prestasi di The 5th Hypothalamus Competition

 

FKUI Ukir Prestasi di The 5th Hypothalamus Competition

Prestasi kembali diukir oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Kali ini, tim mahasiswa dari FKUI berhasil berjaya di ajang The 5th Hypothalamus Competition yang diselenggarakan di Fakultas Kedokteran Universitas Jember, Jawa Timur, pada tanggal 12-14 Juli 2019 lalu.

The 5th Hypothalamus Competition merupakan sebuah kompetisi dan seminar yang dilaksanakan setiap tahun oleh Students Research Center Revolution (SRCR) yang merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa di Fakultas Kedokteran Universitas Jember. Kompetisi tersebut terdiri dari cabang Literature Review, Poster Ilmiah, Esai Ilmiah, Video Edukasi, dan Poster Publik. Pada pagelaran tahun ini, The 5th Hypothalamus Competition mengangkat tema “Holistic Approaches to Decrease the Transmission of Tropical Disease in Agroindustrial Community.

Ada dua penghargaan yang diraih oleh tim mahasiswa FKUI, yaitu sebagai Juara 2 Poster Ilmiah atas nama Rayhan Farandy (Mahasiswa FKUI angkatan 2016); Devi Elora Gugun Siahaan (FKUI 2016); dan Idham Rafly Dewantara (FKUI 2016) serta Juara 3 Literature Review atas nama Sheila Claudhea Salsabila (FKUI 2017); lyanna Azzahra Baihaqi (FKUI 2017); dan Leo Alfath Araysi (FKUI 2017).

Poster Ilmiah yang mereka kompetisikan berjudul “Potensi HMGB-1 dan CD163 sebagai Penanda Biologis Terkini dalam Mendiagnosis Infeksi Brucella sp. pada Manusia dalam Upaya Menekan Angka Kematian Brucellosis”.

Poster ini berisi informasi serta metode diagnosis penyakit infeksi brucellosis. Brucellosis merupakan infeksi zoonosis yang dapat ditransmisikan ke manusia melalui hewan ternak. Indonesia merupakan negara agrikultur dengan jumlah hewan ternak yang cukup banyak, sehingga beberapa kelompok masyarakat di Indonesia rentan terkena brucellosis. Brucellosis paling sering didiagnosis dengan menggunakan kultur bakteri dan serologi.

Hingga saat ini, penanda biologi terbaik dengan spesifisitas dan sensitivitas tertinggi untuk pemeriksaan serologi bruellosis masih terus dicari. Studi ini dilakukan untuk memberikan informasi mengenai potensi HMGB-1 dan CD-163 sebagai penanda biologi terkini dalam mendiagnosis brucellosis, yang dapat digunakan sebagai bahan rekomendasi untuk diagnosis brucellosis yang lebih baik sehingga angka kematian dapat dikurangi.

Dari pengolahan data melalui berbagai sumber, dapat disimpulkan bahwa HMGB-1 dan CD163 memiliki potensi untuk menjadi penanda biomarker terkini dalam mendiagnosis infeksi dari brucellosis. Namun, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan subjek lebih banyak serta penelitian yang membandingkan sensitivitas dan spesifisitas dari HMGB-1 dan CD163 dengan penanda biologis lainnya.

“Kami mencoba mencari penyakit infeksi apa di Indonesia yang sebenarnya jarang sekali diperhatikan. Kebetulan brucellosis masih ada masalah dalam diagnosisnya. Oleh karena itu kami membuat poster ilmiah untuk mencari metode diagnosis yang baru agar brucellosis dapat diketahui secara dini,” terang Rayhan Farandy mewakili teman-temannya.

Sementara itu, literature review yang tim mahasiswa FKUI ajukan pada kompetisi ini berjudul “Tetravalent-mosaic virus like particle (Tm-VLP) dengan Kooekspresi Epitope Domain III (ED III) sebagai Kandidat Kuat Vaksin DENV”.

Literature review tersebut membahas tentang penyakit endemis yang banyak terjadi di Indonesia yaitu demam berdarah dengue. Dengue virus (DENV) dengan empat serotipe (DENV1-4) merupakan penyebab infeksi virus yang ditransmisikan oleh nyamuk dengan prevalensi dan insidensi tertinggi di dunia, serta merupakan penyebab demam dengue, demam berdarah dengue, dan dengue shock syndrome.

Hingga saat ini, belum ditemukan vaksin yang efektif untuk DENV. Studi terkini menunjukkan karakter vaksin DENV yang ideal harus menginduksi respon neutralizing antibody (nAb) dari keempat serotipe yang ada secara seimbang. Vaksin live-attenuated yang ada saat ini belum dapat menginduksi respon ideal tersebut, justru memiliki risiko tinggi untuk memicu antibody dependent enhancement (ADE) yang dapat memperparah gejala klinis penerima vaksin.

Literature review ini mencoba menganalisis potensi epitop EDIII yang di-koekspresikan pada antigen HBV S pada host (induk) Pichia pastoris sebagai Tetravalent mosaic Virus-Like Particle (T-mVLP) yang dapat menginduksi respon imun ideal terhadap DENV.

“Metode yang kami gunakan adalah perbandingan vaksin VLP dengan vaksin live attenuated dan vaksin protein E rekombinan, dari segi imunogenisitas, efek samping, dan  fisibilitasnya untuk diproduksi secara massal. Hasil analisis dari T-mVLP dengan koekspresi EDIII yang direkombinasikan pada sel host P.pastoris menunjukan aktivitas nAb dari keempat serotipe pada mencit dan kera mancaques,” papar Leo Alfath Araysi kepada Humas FKUI. “Kami menyimpulkan vaksin ‘four in one’ T-mVLP dengan koekspresi EDIII merupakan kandidat kuat vaksin DENV yang ideal karena menginduksi respon yang diharapkan, protektif terhadap ADE, dan dapat diproduksi secara masal,” lanjutnya.

Kategori Target Audience: 
Kategori Fakultas: 
Kategori Konten: